Gus Kautsar adalah putra dari KH. Nurul Huda Djazuli, beliau adalah seorang ustadz muda kharismatik dari PP. Al Falah Ploso, Mojo, Kediri. Pastinya anda yang berasal dari Kediri sudah tidak asing lagi dengan KH. Muhammad ‘Abdurrahman Al Kautsar atau panggilan akrabnya Gus Kautsar.

Biografi Singkat Gus Kautsar Ploso Kediri

Nama Lengkap     : Muhammad ‘Abdurrahman Al Kautsar

Nama Panggilan  : Gus Kautsar

Lahir                       : Ploso, Mojo, Kediri.

Kebangsaan           : Indonesia

Pendidikan            : Lasem

Pekerjaan               : Penyebar Agama dari Ploso

Suami/istri            : Ning Jazilah Annahdliyah binti KH. Abdul Hamid Baidhowi

Silsilah Gus Kautsar Ploso Kediri

Ayah                       : KH. Nurul Huda Djazuli, Pengasuh PP. Al Falah, Ploso Mojo Kediri

Kakek                     : KH. Ahmad Djazuli Utsman, Pendiri PP. Al Falah, Ploso Mojo Kediri

Nenek                    : Ny. Hj. Rodliyah

Buyut                     : RM. Muhammad Utsman, seorang Penghulu dari Ploso[1]

Kelahiran Gus Kautsar Ploso

Jagad Batin – Di pesantren inilah Gus Kautsar Ploso lahir di kediri, kemudian ia melepaskan kehidupan lajangnya dan menikah dengan Ning Jazil binti Abdul Hamid Baidhowi. Ning Jazilah Annahdliyah binti KH. Abdul Hamid Baidlowi, adalah keponakan dari Mbah KH. Maoen Zubair yang saat ini tinggal dan tinggal bersama keluarganya di Pondok Pesantren Al Falah, Ploso-Mojo, Kabupaten Kediri.

Gus H. Abdurrahman Al Kautsar adalah suami dari Ning Jazilah Annahdliyah atau akrab disapa Ning Anna, seorang anak dari pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Mojo di kabupaten Kediri KH Nurul Huda Jazuli.

Banyak orang memanggil Ning Jazil di media sosial, Ning Anna atau Ning Jazil ini adalah putri mendiang KH Abdul Hamid Baidlowi yang juga merupakan keponakan mendiang Mbah Moen (KH Maimun Zubair), Sarang, Rembang, Jawa Tengah.

Pendidikan Gus Kautsar Ploso

Muhammad ‘Abdurrahman Al Kautsar mempelajari kitab tersebut sejak kecil di bawah bimbingan langsung ayahnya sendiri. KH. Muhammad ‘Abdurrahman Al Kautsar merupakan salah satu kiai muda NU yang tidak mengenyam pendidikan formal, namun tidak mengurangi kemampuan ilmu agamanya. Bahkan, ia menguasai banyak buku yang dibimbing oleh KH. Nurul Huda Djazuli.

Kiprah Gus Kautsar Ploso

Muhammad ‘Abdurrahman Al Kautsar menjabat sebagai Kepala Sub Pondok Pesantren Al Falah, Ploso Mojo Kediri. Hasil pernikahannya dengan Ning Jazil, Gus Kautsar dikaruniai seorang anak bernama Gus Nayef Sambudigdo yang akan menjadi penerusnya nantinya.

Murid-muridnya adalah santri di Pondok Pesantren Al Falah, Ploso Mojo Kediri. Ia juga pernah terlibat dalam organisasi antara lain: PWNU Jawa Timur. Karir dengan pengetahuan, posisi karir yang diduduki antara lain: Guz Kautsar berperan sebagai Kepala Sub Pondok Pesantren Al Falah, Ploso Mojo Kediri. Gus Kautsar juga pernah terlibat dalam organisasi termasuk PWNU Jawa Timur.

Nasihat/Quotes Gus Kautsar

“Tidak ada ibadah yang lebih istimewa daripada menjaga apa yang masuk ke dalam perut kita dan menjaga apa yang di bawah perut kita.” – Gus Kautsar

“Rata-rata santri yang kehilangan identitasnya itu karena dua hal, yaitu karena masalah perut dan di bawahnya perut.” – Gus Kautsar

“Menikah itu cara tercepat untuk menjadi kekasihnya Allah SWT.” – Gus Kautsar

“Kita semua ini tidak akan pernah selamat sampai kita beriman kepada Allah SWT, dan kamu tidak akan pernah sempurna imannya sampai masing-masing di antara kita membangun kasih sayang, membangun rasa cinta, membangun keterikatan, kamu akan aku tunjukan satu hal yang ketika kamu lakukan maka akan terjadi kasih sayang di antara kalian, apa itu? Sebar kedamaian diantara kita semua.” – Gus Kautsar

“Seorang santri harus tampil menarik dan layak untuk di tertariki.” – Gus Kautsar

“Apa yang bisa membuat islam tampil menarik? maka kamu harus mau berbagi makanan dan sebar kedamaian.” – Gus Kautsar

“Jangan sampai kita menginginkan orang lain terlihat istimewa, terlihat baik, terlihat ideal di mata kita, telinga kita, pikiran kita, tapi kita tidak pernah berpikir untuk tampil yang sama.” – Gus Kautsar

“Perpecahan, pertentangan itu hasil dari masing-masing tidak memiliki budi pekerti yang baik, masing-masing tidak berusaha untuk memperbaiki dirinya sendiri.” – Gus Kautsar

“Ngaji itu penting, jika kalian cinta tuhan kalian tapi kalian tidak mau mengaji itu susah, karena kehancuran duniawiyah dan ukhrowiyah karena kebodohan.”– Gus Kautsar

“Sebuah pemerintahan yang kokoh itu harus tercapai untuk ketentraman kita semua, untuk kenyamanan kita semua, dan semua ini harus kita pertahankan bersama untuk kenyamanan ibadah ubudiyah kita kepada Allah SWT.” – Gus Kautsar

“Jangan pernah berani-berani mengomentari dua orang di dunia ini, pertama orang alim yang kedua orang yang gila, orang alim semua langkahnya terukur dengan kelimuannya, orang gila? kok kamu kurang kerjaan sekali mengomentari orang gila.” – Gus Kautsar

Sejarah Muassis dan berdirinya Al Falah Ploso, Kediri

Kiai Blawong ialah panggilan yang dikasih ke beliau, Mas’ud dari KH. Zainuddin. Saat ini Kiai Blawong kita mengenal bernama KH. Achmad Djazuli Utsman, pendiri sekalian pengasuh pertama Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri.

Satu hari, KH. Zainuddin memerhatikan gerak-gerik dari salah satunya santri baru yang dari Ploso. Pada sebuah kondisi, beliau berjumpa dengan santinya yang namanya Mas’ud itu, selanjutnya beliau memerintah untuk berada didalam pondok Pesantren.

“Cong, endang ning pondok!”

“Kulo mboten gadah bekal, Pak Kyai.” Jawab Mas’ud

“Mari, Cong…mbesok kowe arep dadi Blawong,Co !”

Mas’ud yang tidak ketahui apa iti Blawong, cuma diam saja. Sesudah KH. Zainuddin 3x minta, baru Mas’ud menurut perintahnya untuk berada didalam ponpes. Semenjak tersebut, Mas’ud sering diundang dengan panggilan julukan Blawong.

Makna dari Blawong ialah burung perkutut mahal yang mempunyai suara benar-benar cantik dan merdu. Sang Blawong itu dipiara dengan mulia di istana Kerajaan Bawijaya. Alunan suaranya menakjubkan, tidak ada seorang juga yang berbicara ketika Blawong sedang berkicau, semua memerhatikan suaranya. Seakan burung itu punyai pamor yang hebat.

Dia terlahir di awalnya era XIX, persisnya tanggal 16 Mei 1900 M. Dia ialah anak Raden Mas M. Utsman seorang Onder Area (penghulu kecamatan). Sebagai anak bangsawan, Mas’ud untung, karena dia dapat mengenyam pengajaran sekolah resmi seperti SR, MULO, HIS bahkan bisa duduk pada tingkat perguruan tinggi STOVIA (Fakultas Kedokteran UI saat ini) di Batavia.

Baru saja Mas’ud tempuh pengajaran di STOVIA, tidak lama berlalu Pak Naib, begitu panggilan dekat RM. Utsman kehadiran tamu, KH. Ma’ruf (Kedunglo) yang dikenali sebagai siswa Kyai Kholil, Bangkalan (Madura).

“Pundi Mas’ud?” bertanya Kyai Ma’ruf.

“Ke Batavia. Ia sekolah di jalur kedokteran.” jawab Ayah Mas’ud.

“Saene Mas’ud dipun aturi wangsul. Larene niku ingkang paroyogi dipun lebetaken pondok (Seharusnya dia diundang pulang. Anak itu cocoknya dimasukkan pada pondok pesantren).” kata Kyai Ma’ruf.

Mendapatkan perintah dari ulama yang paling diseganinya itu, Pak Naib selanjutnya mengirimi surat ke Batavia minta Mas’ud untuk pulang ke Ploso, Kediri. Sebagai anak yang berbakti dia juga selanjutnya pulang ke Kediri dan memulai belajar dari pesantren ke pesantren yang lain yang berada di sekitaran karesidenan Kediri.

Mas’ud memulai rihlah ilmiyahnya dengan di pesantren Gondanglegi Nganjuk yang diasuh oleh KH. Ahmad Sholeh. Di pesantren ini dia mempelajari beberapa ilmu yang terkait dengan Al-Qur’an, terutamanya tajwid dan kitab Jurumiyah yang berisi gramatika Arab dasar (Nahwu) sepanjang enam bulan.

Sesudah kuasai pengetahuan Nahwu, Mas’ud yang dikenali semenjak umur muda itu suka menuntut pengetahuan selanjutnya perdalam pelajaran tashrifan (pengetahuan Shorf) sepanjang satu tahun di Pondok Sono (Sidoarjo). Dia sempat mondok di Sekarputih, Nganjuk yang diasuh KH. Abdul Rohman. Sampai pada akhirnya dia nyantri ke pondok yang dibangun oleh KH. Ali Imron di Mojosari, Nganjuk yang di saat itu diasuh oleh KH. Zainuddin. Kiai Zainuddin Mojosari dikenali banyak melahirkan ulama besar, salah satunya ialah KH. Abdul Wahhab Hasbullah (Pendiri NU dan Rais Am sesudah KH. Hasyim Asy’ari), Mas’ud yang saat itu sudah kekurangan perbekalan untuk berada didalam pondok selanjutnya mukim di mushalla pucung (musala yang berada tidak jauh pondok).

Saat di Pondok Mojosari, Mas’ud hidup benar-benar simpel. Perbekalan lima rupiah satu bulan, dirasakan benar-benar jauh dari standard kehidupan santri yang di saat rerata Rp 10,-. Tiap hari, dia cuma makan satu lepek (piring kecil) dengan lauk pauk sayur ontong (jantung) pisang atau daun luntas yang dibalurkan pada sambal kluwak. Benar-benar jauh disebutkan nikmat apa lagi sedap.

Di tengah-tengah kehidupan yang semakin susah itu, Pak Naib Utsman, ayah tersayang wafat. Untuk menyokong ongkos hidup di pondok, Mas’ud beli kitab-kitab kuning yang kosong lalu dia memberikan arti yang paling terang dan gampang dibaca. Satu kitab kecil seperti Fathul Qorib, dia jual Rp 2,5,-(seringgit), hasil yang cukup untuk mengongkosi hidup sepanjang 15 hari di pondok itu.

Sesudah sempat mondok di Mojosari, Mas’ud pergi haji sekalian menuntut pengetahuan langsung di Mekkah. H. Djazuli, begitu nama panggilan namanya sesudah prima menjalankan beribadah haji. Saat di tanah suci, dia berguru pada Syeikh Al-‘Alamah Al-Alaydrus di Jabal Hindi. Tetapi, dia di situ tidak berlama-lama, cuma sekitaran 2 tahun saja, karena ada kup yang dilancarkan oleh barisan Wahabi di tahun 1922 yang diprakasai Pangeran Abdul Aziz As-Su’ud.

Silsilah gus baha dan gus kautsar, hubungan gus kautsar dan gus miek, umur gus kautsar ploso kediri, kelahiran gus kautsar, istri gus kautsar ploso kediri, biografi ning jazil istri gus kautsar, pernikahan gus kautsar, putri gus kautsar, Pernikahan Gus Kautsar, Gus Kautsar Ploso, Gus Kautsar Dan Istri, Istri Gus Kautsar, Silsilah Gus Kautsar, Gus Kautsar Ning Jazil, Istri Gus Kautsar Ploso Kediri, Ning Jazil Gus Kautsar, Ning Jazil Istri Gus Kautsar, Biografi Gus Kautsar, Biografi Gus Kautsar Ploso, Gus Kautsar Ploso Kediri, Gus Baha Dan Gus Kautsar, Kata Kata Gus Kautsar, Gus Kautsar Dan Gus Baha, Gus Kautsar Di Pbnu, Biografi Ning Jazil Istri Gus Kautsar, Silsilah Gus Baha Dan Gus Kautsar, Gus Kautsar Terbaru, Profil Gus Kautsar, Ceramah Gus Kautsar, Biografi Gus Kautsar Ploso Kediri, Silsilah Gus Kautsar Ploso Kediri, Gus Kautsar Story Wa, Gus Kautsar Dan Keluarga, Gus Kautsar Dan Gus Miek, Gus Kautsar Siapanya Gus Baha, Gus Kautsar Menikah, Gus Kautsar Putra Dari, Gus Kautsar Terbaru 2021, Gus Kautsar Umur Berapa, Silsilah Ning Jazil Istri Gus Kautsar, Gus Kautsar Status Wa, Gus Kautsar Profil, Gus Kautsar Kediri, Biografi Istri Gus Kautsar, Gus Kautsar Biodata, Silsilah gus baha dan gus kautsar, hubungan gus kautsar dan gus miek, umur gus kautsar ploso kediri, kelahiran gus kautsar, istri gus kautsar ploso kediri, biografi ning jazil istri gus kautsar, pernikahan gus kautsar, putri gus kautsar, Pernikahan Gus Kautsar, Gus Kautsar Ploso, Gus Kautsar Dan Istri, Istri Gus Kautsar, Silsilah Gus Kautsar, Gus Kautsar Ning Jazil, Istri Gus Kautsar Ploso Kediri, Ning Jazil Gus Kautsar, Ning Jazil Istri Gus Kautsar, Biografi Gus Kautsar, Biografi Gus Kautsar Ploso, Gus Kautsar Ploso Kediri, Gus Baha Dan Gus Kautsar, Kata Kata Gus Kautsar, Gus Kautsar Dan Gus Baha, Gus Kautsar Di Pbnu, Biografi Ning Jazil Istri Gus Kautsar, Silsilah Gus Baha Dan Gus Kautsar, Gus Kautsar Terbaru, Profil Gus Kautsar, Ceramah Gus Kautsar, Biografi Gus Kautsar Ploso Kediri, Silsilah Gus Kautsar Ploso Kediri, Gus Kautsar Story Wa, Gus Kautsar Dan Keluarga, Gus Kautsar Dan Gus Miek, Gus Kautsar Siapanya Gus Baha, Gus Kautsar Menikah, Gus Kautsar Putra Dari, Gus Kautsar Terbaru 2021, Gus Kautsar Umur Berapa, Silsilah Ning Jazil Istri Gus Kautsar, Gus Kautsar Status Wa, Gus Kautsar Profil, Gus Kautsar Kediri, Biografi Istri Gus Kautsar, Gus Kautsar Biodata, Silsilah gus baha dan gus kautsar, hubungan gus kautsar dan gus miek, umur gus kautsar ploso kediri, kelahiran gus kautsar, istri gus kautsar ploso kediri, biografi ning jazil istri gus kautsar, pernikahan gus kautsar, putri gus kautsar, Pernikahan Gus Kautsar, Gus Kautsar Ploso, Gus Kautsar Dan Istri, Istri Gus Kautsar, Silsilah Gus Kautsar, Gus Kautsar Ning Jazil, Istri Gus Kautsar Ploso Kediri, Ning Jazil Gus Kautsar, Ning Jazil Istri Gus Kautsar, Biografi Gus Kautsar, Biografi Gus Kautsar Ploso, Gus Kautsar Ploso Kediri, Gus Baha Dan Gus Kautsar, Kata Kata Gus Kautsar, Gus Kautsar Dan Gus Baha, Gus Kautsar Di Pbnu, Biografi Ning Jazil Istri Gus Kautsar, Silsilah Gus Baha Dan Gus Kautsar, Gus Kautsar Terbaru, Profil Gus Kautsar, Ceramah Gus Kautsar, Biografi Gus Kautsar Ploso Kediri, Silsilah Gus Kautsar Ploso Kediri, Gus Kautsar Story Wa, Gus Kautsar Dan Keluarga, Gus Kautsar Dan Gus Miek, Gus Kautsar Siapanya Gus Baha, Gus Kautsar Menikah, Gus Kautsar Putra Dari, Gus Kautsar Terbaru 2021, Gus Kautsar Umur Berapa, Silsilah Ning Jazil Istri Gus Kautsar, Gus Kautsar Status Wa, Gus Kautsar Profil, Gus Kautsar Kediri, Biografi Istri Gus Kautsar, Gus Kautsar Biodata, Silsilah gus baha dan gus kautsar, hubungan gus kautsar dan gus miek, umur gus kautsar ploso kediri, kelahiran gus kautsar, istri gus kautsar ploso kediri, biografi ning jazil istri gus kautsar, pernikahan gus kautsar, putri gus kautsar, Pernikahan Gus Kautsar, Gus Kautsar Ploso, Gus Kautsar Dan Istri, Istri Gus Kautsar, Silsilah Gus Kautsar, Gus Kautsar Ning Jazil, Istri Gus Kautsar Ploso Kediri, Ning Jazil Gus Kautsar, Ning Jazil Istri Gus Kautsar, Biografi Gus Kautsar, Biografi Gus Kautsar Ploso, Gus Kautsar Ploso Kediri, Gus Baha Dan Gus Kautsar, Kata Kata Gus Kautsar, Gus Kautsar Dan Gus Baha, Gus Kautsar Di Pbnu, Biografi Ning Jazil Istri Gus Kautsar, Silsilah Gus Baha Dan Gus Kautsar, Gus Kautsar Terbaru, Profil Gus Kautsar, Ceramah Gus Kautsar, Biografi Gus Kautsar Ploso Kediri, Silsilah Gus Kautsar Ploso Kediri, Gus Kautsar Story Wa, Gus Kautsar Dan Keluarga, Gus Kautsar Dan Gus Miek, Gus Kautsar Siapanya Gus Baha, Gus Kautsar Menikah, Gus Kautsar Putra Dari, Gus Kautsar Terbaru 2021, Gus Kautsar Umur Berapa, Silsilah Ning Jazil Istri Gus Kautsar, Gus Kautsar Status Wa, Gus Kautsar Profil, Gus Kautsar Kediri, Biografi Istri Gus Kautsar, Gus Kautsar Biodata

Di tengah-tengah kacaunya perang saudara itu, H. Djazuli bersama 5 rekan yang lain berziarah ke pusara Rasulullah SAW di Madinah. Hingga kemudian H. Djazuli dan teman-temannya itu diamankan oleh faksi keamanan Madinah dan dipaksakan pulang melalui pengurusan konsulat Belanda.

Setelah dari tanah suci, Mas’ud selanjutnya pulang ke tanah lahirnya, Ploso dan cuma bawa sebuah kitab yaitu Dalailul Khairat. Selang setahun selanjutnya, 1923 dia melanjutkan nyantri ke Tebuireng Jombang untuk perdalam pengetahuan hadits di bawah tuntunan langsung Hadirotusy Syekh KH. Hasjim Asya’ri.

Ketika H. Djazuli sampai di Tebuireng dan sowan ke KH. Hasjim Asya’ri untuk belajar, Hadrotusy Syekh sudah mengetahui siapa Djazuli yang sebetulnya, “Kamu tak perlu mengaji, mengajarkan saja di sini.” H. Djazuli selanjutnya mengajarkan Tafsiran Jalalain, bahkan juga dia sering sebagai wakil Tebuireng dalam bahtsul masa’il (seminar) yang diadakan di Kenes, Semarang, Surabaya dan lain-lain.

Sesudah dirasakan cukup, dia selanjutnya meneruskan ke Pesantren Tremas yang diasuh KH. Ahmad Dimyathi (adik kandungan Syeikh Mahfudz Attarmasiy). Tidak berapakah lama selanjutnya dia pulang ke desa halaman, Ploso. Demikian lama H. Djazuli mengumpulkan “air keilmuan dan keagamaan”. Seperti telaga, sudah penuh. Waktunya menyalurkan air pengetahuan pegetahuan ke warga.

Mendirikan pesantren Al Falah

Pada sekitar tahun 1924, dengan 1 mushola dan seorang santri namanya Muhammad Qomar, yang tidak lain ialah kakak iparnya sendiri, Haji Djazuli mulai meniti pesantren. beliau melanjutkan pengajian untuk anak‑anak dusun sekitaran Ploso yang telah diawalinya dengan pulang pergi sejak ada di Karangkates. Jumlah siswa pertama kali yang turut mengaji ± 12 orang. Di akhir tahun 1924 itu seorang santri Tremas namanya Abdullah Hisyam asal Kemayan (± 3 km selatan Ploso) tiba bertamu ke Haji Djazuli sekalian bawa salam dan surat‑surat dari teman dekat lama waktunya. Pada akhirnya Hisyam meneruskan belajarnya ke kyai Djazuli yang telah dikaguminya sejak di Tremas.

Dengan bekal kemauan yang kuat, di tanggal 1 Januari 1925 kyai Djazuli ajukan surat permintaan pengawasan ke pemerintahan Belanda untuk instansi baru yang selanjutnya dikenali bernama Al Falah. Karena Madrasah itu belum mempunyai gedung karena itu tempat belajarnya memakai serambi mushola. Berikut awalnya keberangkatan Haji Djazuli jadi seorang Kyai di umur yang masih terbilang muda 25 tahun.

Narasi mengenai berdirinya Madrasah telah kedengar di kelompok yang bertambah luas sampai satu per satu santri banyak yang datang dan tinggal di Ploso. H. Ridwan Syakur, Baedlowi dan Khurmen, ke-3 nya dari Sendang Gringging ditambahkan H. Asy’ari dan Karunia dari Ngadiluwih sebagai santri‑santri pertama kali yang tinggal.

Situasi telah berasa ramai dan masjidpun berasa sesak yang memunculkan persoalan baru yakni menekannya penyediaan ruangan belajar yang ideal. Direncanakanlah pembangunan sebuah gedung Madrasah. Dengan seluruh tenaga, pikiran dan jerih payah yang tidak ternilai, Kyai Djazuli keliling dusun buat kumpulkan dana untuk pembangunan itu. Beliau harus mengayuh sepeda berpuluh‑puluh km sampai Kediri, Tulungagung, Trenggalek dan kadang ke Blitar. Tetapi tidak sia‑sia banyak hartawan dan pemurah hati mengulurkan tangan hingga pembangunan selekasnya dapat dikerjakan.

Dipegang dengan seorang tukang bangunan namanya Hasan Hadi, semua santri pundak membahu gotong-royong, begitupun Kyai dan Ibu Nyai. Sampai pembangunan telah pantas untuk dihuni, tinggallah semen untuk lantai yang tidak dapat dijangkau oleh dana. Tidak ada rotan akarpun maka karena itu dipakailah batu bata merah untuk lantainya, hingga Madrasah yang berada di muka Mushola dan terbagi dalam 2 lokal itu populer dengan panggilan Madrasah Abang (Madrasah Merah). Kejadian ini terjadi di tahun 1927. Kabarnya KH. Hasyim Asy’ari sudi datang dalam acara kenduri/ sukuran pembangunan Madrasah itu, satu pengesahan yang paling simpel.

Jumlahnya santri yang tinggal sudah tidak tertampung kembali di Mushola hingga timbullah persoalan kembali yakni penyediaan asrama (pondok) tempat menetap untuk beberapa santri. Karena itu di tahun selanjutnya (1928) dibuatlah asrama pertama kali yang dinamakan pondok D (Darussalam) yang diikuti di tahun selanjutnya dengan pembangunan Pondok C (Sinar) yang sebelumnya ditujukan sebagai tempat mujahadah untuk beberapa santri.

Di tahun 1939 dibuatlah komplek A (Andayani), sebuah asrama dengan lantai dua diperlengkapi sebuah masjid di depannya. Dengan terdapatnya asrama D, C dan sekarang A dan masjid yang disebut hak punya ponpes diharap santri bisa tenteram ikuti pengajian dan aktivitas‑kegiatan belajar yang lain. Di akhir periode penjajahan Belanda sekitaran tahun 1941, kantor kenaiban ditetapkan untuk berpindah ke Mojo (6 km utara Ploso). Sudah pasti peralihan itu tinggalkan kekayaan yang bernilai, salah satunya sebuah mushola, pendopo kenaiban, rumah‑rumah dan tanah pelataran yang lumayan luas. Agar bisa mempunyai kekayaan itu faksi pondok disuruh untuk menyiapkan tanah alternatif di Mojo. Karena itu pondok keluarkan dana 71 gulden Belanda

Pada periode penjajahan Jepang, ketahui jika Kyai Djazuli ialah orang yang memiliki pengajaran umum yang lumayan tinggi dan sanggup untuk jalankan pekerjaan‑tugas kepimpinan resmi yang terkait dengan administrasi, diangkatlah beliau sebagai Sancok (Camat) dan dengan paksakan juga beliau diwajibkan menukar sarung, kopyah dan surbannya dengan celana pendek, topi dan sepatu. Jepang berasumsi beliau ialah Kyai, seorang figur tidak resmi yang dapat digunakan untuk propaganda 3A dengan semboyan :

  • Nippon sinar Asia
  • Nippon perlindungan Asia dan
  • Nippon pimpinan Asia

Beliau jalankan tekad Jepang dengan argumen Bid‑Dlorurot, karena bila beliau tidak ingin, Jepang jadi berprasangka buruk bahkan juga tidak enggan‑segan membunuhnya seperti yang sudah dilakukan pada banyak Kyai saat itu, jika hal tersebut terjadi yang rugi bukan Kyai Djazuli individu atau keluarganya saja, namun umat Islam. Tidakkah pondok yang sedang dirintisnya setapak untuk setapak alami perkembangan?

Namun pada pekerjaan‑tugasnya di tengah-tengah warga, Kyai Djazuli sampaikan ceramah Islam bukan ceramah Jepang. Dibawanya rakyat untuk selalu bersabar dan tidak patah semangat hadapi masalah pahitnya dijajah, dibawanya rakyat untuk bertobat dan dekatkan diri pada Allah yang kuasa supaya bantuan Allah selekasnya tiba.

Dari sancok beliau dipindahkan pekerjaankan ke Pare, sebagai ketua parlemen (Ketua DPRD Tk. II) tiap pagi beliau telah dijemput dengan kendaraan untuk melakukan pekerjaan dan baru diantarkan pulang mendekati maghrib. Dalam aktivitas semacam itu beliau masih tetap usaha agar mengajarkan ngaji di tengah-tengah santri‑santrinya, karena itu sesudah istirahat sesaat setelah maghrib beliau ajak beberapa santri bergabung di mushola.

Rupanya tindakan Jepang pada Kyai Djazuli dengan cara‑cara di atas belum dia anggap cukup, pucuknya ialah ditempatkannya beliau ke daftar KAMIKAZE (Pasukan berani mati) Kyai yang paling disayang dan diperlukan oleh ummat itu sekarang akan diambil oleh Jepang untuk diberikan nyawanya demikian saja ke tentara sekutu. Maka dari itu Sa’idu Siroj lurah pondok pertama berasa tidak sampai hati menyaksikan tindakan Jepang yang biadab ini. Pemuda Tulungagung ini tampil dengan berani untuk sebagai wakil Kyai, gurunya yang dimuliakan. Ia ikhlas nyawanya melayang-layang sebagai tumbal dan untuk keselamatan pimpinan Ponpes. Sampai pada akhirannya di tanggal 15 Agustus 1945 Jepang berserah tanpa persyaratan dan pergi dari Indonesia. Alhamdulillah, selamatlah Kyai Djazuli dari KAMIKAZE.

Aktivitas pondok yang pernah terusik di jaman Jepang sekarang sudah usai, pembaruan‑penyempurnaan di bagian kurikulum terus dilaksanakan. Gema perkembangan Al Falah makin menebar ke kelompok yang bertambah luas hingga jumlah santri naik jadi ±400 orang dalam kurun waktu sekitaran 2 tahun.

Tahun 1948, belanda memperlancar invasi militer. hingga beberapa santri turut berusaha menjaga agama dan negara. Bahkan juga 2 orang dari santri Ploso luruh di medan juang, sebagai syuhada bunga bangsa. Sepanjang 2 tahun juga pondok Ploso sepi tanpa santri dan kosong dari pengajian Yang masih ada cuma lima orang santri yang telah berkemauan hidup dan mati di pondok. Mereka itu ialah :

  1. Zainuddin dari Kebumen
  2. Mas’uddin dari Yogyakarta
  3. Kholil dari solo
  4. Kholiq Dhofir dari Kediri
  5. Romli dari Trenggalek.

Tahun 1950 keadaan kembali aman, dan aktivitas pondok diaktifkan kembali. Zainuddin Kebumen diangkat sebagai lurah pondok yang bekerja mengurus jalannya roda pengajaran sesudah masa‑masa invasi. Dan lima orang temannya yang di periode invasi masih tetap tinggal di pondok diangkat sebagai pengurus‑pengurus lain. Berangsur‑angsur beberapa santri kembali lagi ke pondok sesudah alami liburan panjang sepanjang dua tahun. Jumlah santri 400 orang saat sebelum invasi telah tiba, bahkan juga semakin bertambah dengan hadirnya santri‑santri baru secara berangsur‑angsur. Kepadatan masyarakat mulai berasa kembali di pondok Al Falah hingga peluasan harus selekasnya direalisasikan. Karena itu di tahun 1952 kyai Djazuli dan seluruh beberapa santrinya membuat sebuah asrama yang dinamakan komplek B (Al Badar).

Masuk umurnya yang ke-25 tahun pada tahun 1950‑an, searah dengan mengembangnya sarana‑fasilitas gedung, perlengkapan dan lain-lain, karena itu pembaruan dan pembaruan dipertingkat di bagian mekanisme pengajaran seperti kurikulum, sistem hubungan dan lain‑lain. Pembaruan itu ditujukan (berkiblat) ke mekanisme Tebuireng di tahun 1923. Satu mekanisme yang dikagumi dan ditimba oleh Kyai DjazuIi sepanjang mondok di situ di tahun 1923. Karena itu mekanisme belajar mengajarkan di Al Falah ini selalu berjalan dengan berdasar ke mekanisme Tebuireng sampai sekarang ini. Tidak terlalu berlebih jika disebutkan jika Pondok Al Falah ialah duplikat bersejarah dari Pondok Tebuireng di periode KH. Hasyim Asy’ari tahun 1923. Kyai Djazuli ternyata memiliki konsep yang kuat dan benar-benar percaya ke mekanisme salafiyah yang diputuskannya, hingga beliau masih tetap stabil untuk melestarikannya. Dan rupanya Kyai Djazuli tidak salah tentukan karena mekanisme salafiyah masih tetap punyai simpatisan dan fans di kelompok ummat Islam.

Demikianlah realitanya sekitaran tahun 1960‑an santri semakin meningkat hingga sarana gedung yang ada sudah tidak memuat kembali. Untuk menangani permasalahan ini di tahun 1957 dibuat dua unit bangunan asrama yang dinamakan Komplek G (Al Ghozali) dan Komplek H (Hasanuddin). Demikian selanjutnya 5 tahun selanjutnya pondok berasa sesak kembali dan dibuatlah Komplek AA (Al Asyhar) di tahun 1962.

Pondok Al Falah makin anggun dengan bangunan-bangunan yang telah berderet bersamaan dengan wibawanya yang semakin dirasa oleh khalayak luas. Dampak pondok yang ditempati oleh ±600 orang santri ini makin kuat di tengah‑tengah warga abangan Ploso. Masalah‑gangguan faksi luar yang diperuntukkan ke pondokpun berangsur‑angsur menyusut dan pada akhirnya lenyap sama sekalipun. Warga telah rata‑rata memperlihatkan sikap simpati dan berduyun‑duyun menyekolahkan anaknya ke pondok yang menggerakkan dibukanya Madrasah Lailiyah (malam) khusus untuk anak‑anak daerah sekitaran, yang dibangun di tahun 1957/1958.

Sampai diakhir hayat, KH. Ahmad Djazuli Utsman dikenali istiqomah dalam mengajarkan ke santri-santrinya. Saat masuk umur senja, Kyai Djazuli mengajarkan kitab Al-Hikam (tasawuf) secara periodik tiap malam Jum’at bersama KH. Abdul Madjid dan KH. Mundzir. Bahkan juga sekalinya pada kondisi sakit, beliau masih tetap menemani santri-santri yang belajar padanya. Riyadloh yang beliau amalkan benar-benar sangat simpel tetapi bermakna yang dalam. Beliau memanglah tidak mempraktikkan wiridan-wiridan tertentu. Thoriqoh Kyai Djazuli hanya belajar dan mengajarkan “Ana thoriqoh ta’lim wa ta’allum” ,dawuh beliau berkali-kali ke beberapa santri.

Pasangan KH. Djazuli dengan Ibu Nyai Rodliyah memiliki 8 anak putra dan 3 anak putri :

  1. Siti Azizah (wafat diusia 1 thn)
  2. Hadziq (wafat diusia 9 bln)
  3. KH. A. Zainuddin Djazuli
  4. KH. Nurul Huda Djazuli
  5. KH. Hamim Djazuli (Alm. Gus Miek)
  6. KH. Fuad Mun’im Djazuli
  7. Mahfudz (wafat diusia 3 thn)
  8. Makmun (wafat diusia 7 bln)
  9. KH. Munif Djazuli (Alm)
  10. Ibu Nyai Hj. Lailatul Badriyah Djazuli
  11. Su’ad (wafat diusia 4 bln)

Hadratus Syaikh KH. A. Djazuli Utsman menghadap ke yang kuasa pada pukul 15.30 wib hari Sabtu wage 10 januari 1976 bersamaan dengan 10 Muharam 1396 H.

Beberapa ribu umat menemani acara penyemayaman figur pimpinan dan ulama itu di samping mushola kenaiban, Ploso, Kediri. Kabarnya, beberapa anak-anak kecil di Ploso, saat mendekati meninggal dunianya KH. Djazuli, menyaksikan langit bertabur kembang. Langit juga seakan bersedih dengan keperginya ‘Sang Blawong’ yang mengajari banyak keluhuran dan budi pekerti ke santri-santrinya itu.

Beliau meninggal dunia tanpa tinggalkan apa‑apa berbentuk harta benda, sawah, kebun atau emas permata. Tapi sebuah ponpes Al Falah sudah melewati segala hal. Sukses besar cetak putra‑putrinya jadi manusia-manusia sholeh sholehah akan datangkan kebahagiaan tertentu di alam barzah dan di akhirat. Masih ditambah dengan pengetahuan faedah yang beliau meninggalkan akan menyalurkan pahala terus-terusan, lebih deras dari saluran sungai Brantas selama hidup. Ke-3 kasus itu sudah dicapai dengan cemerlang oleh Kyai Djazuli berbentuk pengetahuan faedah, anak sholeh yang hendak selalu berdo’a dan amal jariyah berbentuk Al Falah yang semakin istimewa.[2]

Video Ngaji Gus Kautsar, Youtube: Nu Online

Demikian Penjelasan dari saya tentang Biografi Gus Kautsar Ploso, Kediri. Semoga bermanfaat

[1] https://dawuhguru.com/

[2] https://alfalahploso.net/

Facebook Comments Box
Bagikan:

Jagad Batin

jagadbatin.com adalah media kreator yang bergerak dengan cara mempublikasikan nasihat-nasihat yang sejuk melalui berbagai media sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.