Latar Belakang Keluarga Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani – Nama lengkap Syekh Abdul Qadir al-Jailani adalah Abu Muhammad Muhyiddin Abdul Qadir al-Jailani bin Abi Salih as Sayyid Musa bin Junki Dausit bin as-Sayyid Abdullah al-Jili bin as-Sayyid Yahya az-Zahid bin as-Sayyid Muhammad bin as- Sayyid Dawud bin as-Sayyid Musa bin as-Sayyid Abdullah bin as-Sayyid Musa al Juni.

Ia lahir di Jaelan, di sebelah Laut Kaspia, Iran. Mengenai tahun kelahirannya, ada banyak pendapat yang berbeda. Abdul Razaq al-Kailani dalam Syaikh Abdul Qadir al-Jailani: Guru Para Pencari Tuhan menyatakan bahwa pendapat yang paling sahih adalah pendapat Ibn al-Jauzi yang mengatakan bahwa tahun kelahiran al-Jailani adalah 1 Ramadhan 471 H.

Latar Belakang Keluarga Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

JAGAD BATIN – Ibunya adalah keturunan Sayyidina Husain cucu Nabi Muhammad, sedangkan ayahnya adalah keturunan Sayyidina Hasan. Hal inilah yang membuat sebagian orang juga memanggilnya Sayyid. Jika ditelusuri secara silsilah, tasawufnya kemungkinan diturunkan dari kakek dari pihak ibu, yaitu Syekh Abdullah Saumi.

Kehidupan keluarga Al-Jailani cukup sederhana. Orang tuanya adalah petani yang bekerja di sebidang tanah serta peternak sapi. Sapi-sapi itu sendiri sering digunakan oleh al-Jailani sebagai alat untuk membajak tanah keluarga mereka. Pada saat itu, sebagian besar penduduk Jailan adalah Hanbali, sehingga al-Jailani juga Hanbali. Hal ini pada gilirannya memicu keinginannya untuk pergi ke Bagdad sebagai pusat keilmuan Hanbali sekaligus kiblat ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah.

Setelah menimba ilmu dari kampung halamannya sendiri, al-Jailani kemudian pindah ke Bagdad pada tahun 1095 M dalam usia 18 tahun. Sebuah riwayat menyatakan bahwa ketika dia pergi, ibunya memiliki 80 dinar warisan dari ayahnya yang akan dia berikan semuanya kepada al-Jilani. Hanya setengah dari apa yang diambil al-Jilani dari warisan, sisanya ia berikan kepada ibunya. Untuk menghindari perampok, al-Jailani menyimpan uang itu di saku yang dijahit di bawah ketiaknya.

Selain menuntut ilmu di Bagdad, al-Jailani juga dikabarkan sering merantau dalam rangka mensucikan jiwanya. Sebagaimana diceritakan oleh al-Barzanji bahwa ini berlangsung selama lebih dari 25 tahun. Kesibukan menuntut ilmu dan traveling inilah yang juga membuat al-Jailani baru menikah di usia 51 tahun. Tepatnya pada tahun 521 H. Ia memiliki 4 istri dan 49 anak.

Quotes dan Nasihat Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

  1. “Orang yang zuhud itu berpuasa dari makan dan minum, sedangkan orang yang arif itu berpuasa tanpa diketahui.”
  2. “Orang yang beriman selalu menyembunyikan apa yang ada padanya. Jika lisannya terlanjur mengucapkan sesuatu yang kurang baik, maka ia segera memperbaiki ungkapan yang diucapkan itu. Berusahalah menutupi apa yang telah lahir, dan mohon kemaafan.”
  3. “Janganlah kamu menghendaki kelebihan dan kekurangan. Janganlah mencari kemajuan dan kemunduran. Sebab ketentuan telah menetapkan bagian masing². Setiap orang di antara kamu, tidak diwujudkan melainkan telah ditentukan catatan mengenai pengalaman hidupnya secara khusus.”
  4. “Bersopanlah yang baik terhadap-Nya dan terhadap makhluk-Nya. Sedikitlah berbicara yang tidak berguna bagimu.”
  5. “Orang-orang yang meninggalkan amal dalam keadaan berilmu, ilmu itu akan melupakanmu dan berkahnya hilang dari hatimu. Wahai orang-orang yang bodoh! seandainya kamu mengetahui-Nya nescaya kamu mengetahui siksaan-siksaan-Nya.”
  6. “Wahai anak! Janganlah kamu menuntut sesuatu kepada seseorang. Dan jika kamu mampu untuk memberi dan tidak mengambil maka lakukanlah. Kamu melayani dan kamu tidak minta dilayani oleh orang lain maka lakukanlah.”
  7. “Nasihatilah dirimu terlebih dahulu barulah kemudian menasihati orang lain. Kamu harus lebih memperhatikan nasib dirimu. Janganlah kamu menoleh pada orang lain sedangkan dalam dirimu masih ada sesuatu yang harus diperbaiki.”
  8. “Janganlah kamu takut kepada makhluk dan janganlah kamu berharap kepada mereka, kerana hal itu menunjukkan betapa lemahnya imanmu. Hendaklah engkau istiqamah dalam cita-citamu, sehingga engkau memperolehi ketinggian, kerana Allah SWT akan memberimu sesuatu yang layak dengan cita-citamu, dengan kebenaran dan keikhlasanmu. Bersungguh-sungguhlah engkau, songsong dan kejarlah, kerana sesuatu itu tidak akan datang kepadamu begitu sahaja, tanpa berusaha memperolehinya, sedangkan engkau mempunyai kewajiban untuk melakukan amal kebaikan sebagaimana engkau diwajibkan untuk mencari rezeki.”
  9. “Jadikanlah akhiratmu sebagai modalmu dan jadikan duniamu sebagai keuntunganmu. Gunakanlah seluruh waktumu untuk menghasilkan akhiratmu. Lalu apabila dari waktumu itu ada sedikit yang masih tersisa maka gunakanlah untuk berusaha dalam urusan duniamu dan mencari penghidupanmu.”
  10. “Berpikirlah, bahwasanya sesuatu yang kamu cintai di dunia ini tidak akan kekal selamanya. Tidak abadi dan pasti fana. Jika kamu telah menyadari hal ini, maka kamu tidak akan melupakan-Nya walaupun sekejap.”
  11. “Sesungguhnya bencana terhadapmu bukan untuk menghancurkanmu melainkan sesungguhnya akan mengujimu, mengesahkan kesempurnaan imanmu dan menguatkan dasar kepercayaanmu dan memberikan kabar baik ke dalam batinmu.”
  12. “Orang itu dikatakan dekat dengan Allah selama dia meluangkan waktunya untuk berdzikir setiap hari.”
  13. “Wahai muridku, jangan jadikan apa yang kamu makan dan minum, yang kamu pakai, yang kamu nikahi dan berkumpul dengannya sebagai tujuan dan cita-cita. Semuanya adalah dorongan hasrat dan hawa nafsu.”
  14. “Dunia boleh saja ditanganmu atau berada disakumu untuk engkau simpan dan pergunakan dengan niat yang baik. Tetapi jangan meletakkannya didalam hati. Engkau boleh menyimpannya diluar pintu (hati), tetapi jangan memasukkannya ke dalam pintu. Karena hal itu, tidak akan melahirkan kemuliaan bagimu.”
  15. “Kefakiran adalah tidak punya sesuatu yang di butuhkan, dan jika tidak membutuhkan sesuatu maka dinamakan kaya.”
  16. “Wahai hamba Allah, yang disebut kerja keras itu bukan terletak pada kekesatan pakaianmu dan makananmu, kerja keras adalah terletak pada sikap zuhud hatimu.“
  17. “Sabar adalah suatu ketentuan, daya positif yang mendorong jiwa untuk menunaikan kewajiban, selain itu sabar adalah suatu kekuatan.“
  18. “Janganlah kamu menjadi orang yang berlisan syukur, tetapi hatimu berpaling dari hak yang datang kepadamu, memang demikianlah kebanyakan orang.”
  19. “Lelah itu selama kamu berkemauan untuk menuju dan berjalan kepada-Nya. “
  20. “Terkadang kamu meminta pertolongan kepada-Nya dengan menentang-Nya.”
  21. “Penyesalan: perbaikilah hatimu, karena jika hati telah baik, segala tingkah lakumu akan menjadi baik.”
  22. “Hati yang baik itu karena adanya takwa dan tawakal kepada Allah Ta’ala, bertauhid kepada-Nya dan ikhlas dalam beramal serta yakin akan kerusakan semua itu apa bila tidak ada tindakan-tindakan tersebut.“
  23. “Orang yang beriman selalu menyembunyikan apa yang ada padanya. Jika lisannya terlanjur mengucapkan sesuatu, maka ia segera memperbaiki ungkapan yang diucapkan itu. Berusahalah menutupi apa yang telah lahir, dan mohon kemaafan.”
  24. “Jika dunia dan akhirat datang melayanmu, dengan tanpa susah payah, ketuklah pintu tuhanmu dan menetaplah di dalamnya. Bila kamu telah menetap di dalamnya, akan jelaslah bagimu seperti “ buah fikiran”..”
  25. “Nafsu seseorang selalu menentang dan membangkang. Maka barangsiapa ingin menjadikannya baik, hendaklah ia bermujahadah, berjuang melawannya, sehingga terselamat dari kejahatannya. Hawa nafsu semuanya adalah keburukan dalam keburukan, namun apabila telah terlatih dan menjadi tenang, berubahlah ia menjadi kebaikan di dalam kebaikan.”

Demikian ulasan tentang Latar Belakang Keluarga Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani semoga bermanfaat.

Facebook Comments Box
Bagikan:

Jagad Batin

jagadbatin.com adalah media kreator yang bergerak dengan cara mempublikasikan nasihat-nasihat yang sejuk melalui berbagai media sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.